Waspada Ancaman Gelombang Kedua : Mitigasi Penyakit Pasca-Banjir di Tengah Krisis Hidrologi Sumatera | S2 Kesehatan Masyarakat

Penulis : Lisanan Shidiq Aliya, S.Gz., M.Sc

Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh Tamiang dan Sumatera Utara pada Desember 2025 bukan hanya meninggalkan residu lumpur, tetapi juga membawa ancaman gelombang kedua yaitu bom waktu biologis. Saat air mulai surut, masyarakat kini dihadapkan pada fase kritis kedua: wabah penyakit menular.

Laporan lapangan terbaru mengonfirmasi bahwa pengungsi di Aceh Tamiang mulai terserang berbagai penyakit akibat buruknya sanitasi dan minimnya air bersih. Artikel ini membedah patofisiologi penyakit yang muncul serta protokol penanganannya :

1. Infeksi Kulit daru Dampak Kontak Air Terkontaminasi

Berdasarkan laporan media lokal, banyak warga yang terpaksa bertahan dengan pakaian basah atau tidak memiliki akses air bersih untuk mandi berhari-hari. Kondisi ini menyebabkan maserasi (pelunakan jaringan kulit) yang merusak fungsi barrier (pelindung) kulit. Penyakit kulit yang kini mendominasi posko pengungsian meliputi:

  • Dermatitis Kontak Iritan: Akibat paparan zat kimia atau limbah domestik yang larut dalam air banjir.
  • Tinea Pedis (Kutu Air): Infeksi jamur dermatofita yang tumbuh subur di sela jari kaki yang lembap.
  • Infeksi Bakteri Sekunder: Bakteri Staphylococcus atau Streptococcus masuk melalui luka lecet, berisiko menyebabkan selulitis atau bisul bernanah, terutama pada lansia dan penderita diabetes.

Prioritas utama penanganan darurat adalah menjaga kulit tetap kering. Jika air bersih langka, penggunaan tisu basah antiseptik atau alkohol 70% pada luka terbuka bisa menjadi alternatif sementara sebelum bantuan medis tiba.

2. Penyakit “Water-Borne”: Diare dan Ancaman Tifoid

Lumpuhnya infrastruktur sanitasi di Aceh Tamiang memicu kontaminasi silang antara sumber air minum dan limbah (fecal-oral transmission). Bakteri E. coli dan Salmonella typhi berkembang biak cepat di genangan. Risiko ini meningkat karena warga kesulitan mendapatkan air minum yang layak, seringkali hanya mengandalkan air hujan atau air sumur yang tercemar. Waspadai diare yang disertai lendir/darah, demam tinggi (>38.5°C), atau tanda dehidrasi berat (mata cekung, kulit tidak elastis). Pada anak-anak, dehidrasi dapat berakibat fatal dalam hitungan jam. Prioritas utama penanganan darurat adalah Rehidrasi Oral (Oralit), dan mengusahakan air minum wajib dimasak hingga mendidih (100°C) minimal 3-5 menit untuk mematikan kista bakteri.

3. Leptospirosis dan ISPA

Selain penyakit kulit dan pencernaan, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan umum akibat udara dingin dan padatnya tenda pengungsian. Namun, ancaman yang lebih mematikan adalah Leptospirosis yang disebarkan melalui urin hewan pengerat (tikus) yang terbawa banjir. Bakteri Leptospira masuk lewat luka terbuka atau selaput lendir. Gejala Klinis yang muncul biasanya demam tinggi mendadak, mata merah (conjunctival suffusion), dan nyeri tekan otot betis (gastrocnemius pain). Prioritas utama penanganan darurat adalah pemberian antibiotic. Tanpa antibiotik segera (seperti Doxycycline), penyakit ini dapat memicu gagal ginjal akut.

Krisis kesehatan di Aceh Tamiang adalah pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti saat hujan reda. Bagi masyarakat terdampak, penggunaan alas kaki (sepatu boots) adalah “vaksin” termurah mencegah infeksi. Bagi relawan dan tenaga medis, skrining aktif terhadap gejala demam dan gatal di pengungsian harus digencarkan untuk memutus mata rantai penularan.

Ingin memperdalam keahlian dalam manajemen bencana dan epidemiologi penyakit menular pasca-krisis? Program Studi S2 Kesehatan Masyarakat Universitas Alma Ata siap membekali Anda dengan wawasan strategis dan solusi kesehatan lingkungan terkini. Sebagai program studi dengan akreditasi UNGGUL dan S2 Kesehatan Masyarakat terbaik di Jogja, kurikulum kami dirancang untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan responsif terhadap tantangan kesehatan daerah rawan bencana. Wujudkan passion Anda di Universitas Alma Ata.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Prodi S2 Kesehatan Masyarakat UAA, kunjungi s2kesmas.almaata.ac.id atau ikuti media sosial kami di Instagram : @s2kesmas_uaa, Tiktok: s2kesmasuaa

Referensi

    1. IDN Times Sumut (Des 2025). Banjir Aceh Tamiang: Warga di Pengungsian Mulai Diserang Penyakit. Diakses dari: https://sumut.idntimes.com/news/sumatera-utara/banjir-aceh-tamiang-warga-di-pengungsian-mulai-diserang-penyakit-00-f4z9n-q8q8z3
    2. WHO South-East Asia (2024). Guidelines for Risk Management of Water-borne Diseases in Flood Affected Areas.
    3. Kementerian Kesehatan RI (2025). Pedoman Penanggulangan Krisis Kesehatan Pasca-Bencana Hidrometeorologi.
    4. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Konsensus Penatalaksanaan Penyakit Tropis Infeksi di Daerah Bencana